Sulit sekali memang harus merahasiakan perasaan darimu, Mentari. Tadinya aku ingin menyimpannya sendiri kala bertemu di lorong kelas itu. Tapi tidak jadi karena ada banyak semut di lesung pipimu. Malam hari ini, aku putuskan untuk menulis cerita ini. Namanya Mentari, siswi kelas tiga pindahan dari Jakarta. Yang berhasil membuat aku tersipu malu, lagi-lagi dengan tingkahnya yang lucu, penampilannya yang menarik, rambut sehelai bahu, diikat yang menghasilkan poni dengan rapih lengkap sudah disebelah kiri ada jepitan berwarna merah jambu dibarengi senyuman khasnya. Sebenarnya aku merasakan dejavu yang kencang. Saat kamu mengatakan, "Hai... kamu enggak apa-apa? Boleh aku obatin luka di tanganmu itu?" Kalimat itulah yang membuat jantung entah hati yang berdegup lebih kencang dari biasanya. "Gausah.. aku mau ke Uks kok, terima kasih," jawabku. Sampai di Uks, pintu terbuka lebar, diketuk beberapa kali tapi masih enggak ada sahutan dari dalam. Lima menit berlalu, wanit...