Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label lamunan yang panjang

Dilema

Sulit sekali memang harus merahasiakan perasaan darimu, Mentari. Tadinya aku ingin menyimpannya sendiri kala bertemu di lorong kelas itu. Tapi tidak jadi karena ada banyak semut di lesung pipimu. Malam hari ini, aku putuskan untuk menulis cerita ini. Namanya Mentari, siswi kelas tiga pindahan dari Jakarta. Yang berhasil membuat aku tersipu malu, lagi-lagi dengan tingkahnya yang lucu, penampilannya yang menarik, rambut sehelai bahu, diikat yang menghasilkan poni dengan rapih lengkap sudah disebelah kiri ada jepitan berwarna merah jambu dibarengi  senyuman khasnya. Sebenarnya aku merasakan dejavu yang kencang. Saat kamu mengatakan, "Hai... kamu enggak apa-apa? Boleh aku obatin luka di tanganmu itu?" Kalimat itulah yang membuat jantung entah hati yang berdegup lebih kencang dari biasanya. "Gausah.. aku mau ke Uks kok, terima kasih," jawabku.  Sampai di Uks, pintu terbuka lebar, diketuk beberapa kali tapi masih enggak ada sahutan dari dalam. Lima menit berlalu, wanit...

"Derana namanya, sore ini dia murung dan hampir menyerah."

Malam makin larut kala Derana tiba di rumahnya. Ibunya sudah menunggu di meja makan, berharap bisa makan malam bersama, tapi lagi-lagi malam ini Derana pulang sangat larut. Pelan-pelan penuh hati-hati Derana membuka pintu, karena dia sudah tahu Ibunya pasti menunggu sampai ketiduran di meja makan itu. "Dasar anak nakal," Ucap jarum jam dingding, yang menandakan sudah pukul 11 malam. "Deranaaaaa..." sahut tahu dan tempe yang mulai kedinginan. Derana mulai berjalan ke atas tempat ia tidur. Lalu terlelam begitu saja dengan lelah yang menerpa seharian. "Deeerrrrt... derrrrt... derrrrt..." bunyi alarm di bawah ranjang kamarnya. Derana bangun dari kasurnya, lalu mandi. "Lain kali, kalau mau pulang larut malam kabarin Ibu dulu!" Ujar Ibu. "Sarapan udah siap, baju dan celana sudah di kamarmu, gespernya di lemari, cepat siap-siap, Ibu ke pasar dulu," tambah Ibu seraya mengambil tas jingjing untuk ke pasar. "Iya Ibu, maaf," bal...

Obrolan Derana dengan Bapak tua.

 "Hujan malam ini membasahi ribuan rumah, mobil, motor, pasar, sekolah, tukang seblak, tukang pentol, stasiun, sukajadi, bojong, warnajati, cibolang, cilubang, cimahi, pakuwon, kamu juga kenangan," Ucap seorang lelaki paruh baya sembari membereskan pakaiannya sebab diguyur hujan.  "Bagaimana bapak bisa sepuitik itu dalam mengutarakan perasaan?" tanya pemuda yang duduk di sampingnya.  "Dulu, Bapak pernah suka sama orang sekarwangi. Tapi, ah, entahlah, enyahlah," Jawabnya, seraya mengambil rokok coklat ekstra.  "Wih, Bapak. Keren sekali seleranya. Nama kampungnya cantik, apalagi orangnya." Pemuda itu menyeruput kopi hitamnya.  "Cantik sih relatif ya, dia perempuan yang bisa bikin Bapak lupa bahwa hati Bapak pernah patah, jadi kepikiran, hadehhh," ujarnya "Bapak ke dalam dulu ya, ngambil baju," tambahnya seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam.  Sang Pemuda pun menyeruput kopinya hitamnya seraya membayangkan perempuan seperti ...